29 Juli 2010

TIPS NAIK PESAWAT SAAT BERANGKAT IBADAH HAJI

Berangkat ke Tanah Suci sering menjadi pengalaman pertama bagi calon jamaah haji. Pengalaman pertama ke luar negeri, pengalaman pertama lama meninggalkan keluarga, bahkan pengalaman pertama naik pesawat terbang.

Perjalanan dengan pesawat ke Tanah Suci membutuhkan waktu cukup lama. Jika lancar, sekitar sembilan jam dari Jakarta. Untuk jamaah gelombang pertama, tak semua penerbangan langsung ke Madinah. Jamaah dari embarkasi Jakarta dan Medan akan langsung mendarat di bandara Amir Muhammad bin Abdul Azis (AMAA) Madinah. Sedangkan embarkasi lainnya akan mendarat di bandara King Abdul Azis (KAA) Jeddah, lalu melanjutkan perjalanan darat yang ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Untuk gelombang kedua, semua mendarat di KAA, kemudian menuju Makkah.

Pesawat yang digunakan untuk penerbangan haji adalah pesawat berbadan lebar. Mulai dari A330 yang berkapasitas 325 kursi hingga B747 yang berkapasitas 455 kursi. Sebagian jamaah diangkut oleh Garuda sebagian lain oleh Saudi Air lines. Semua penerbangan dengan Saudi Airlines untuk gelombang pertama akan langsung mendarat di Madinah. Sebagian pesawat ada juga yang transit di Abu Dhabi atau Dubai. Disini pesawat transit selama beberapa jam untuk mengisi bahan bakar. Sejumlah jamaah ONH Plus bahkan harus menginap semalam di Dubai, baik berangkat maupun pulangnya.

Sebelum berangkat jamaah hendaknya sudah tahu dimana pesawat akan mendarat atau transit. Bagi jamaah gelombang kedua, atau ONH Plus yang langsung menuju Makkah, kain ihram wajib dimasukkan ke dalam tas tentengan. Jangan masukkan ke dalam koper besar karena ihram sudah harus dipakai ketika pesawat melewati miqat (sekitar Yalamlam). Biasanya satu jam sebelum sampai batas miqat awak pesawat mengumumkan agar calon jamaah haji mempersiapkan diri untuk berihram.

Banyak pula jamaah haji gelombang kedua sudah memakai kain ihramnya saat masih berada di bandara embarkasi. Ini baik dilakukan untuk menghindari kesulitan berganti pakaian di atas pesawat nanti. Bagi jamaah yang transit, kain ihram bisa dipakai dari hotel bila menginap, atau di bandara bila tak menginap. Namun ada pula jamaah yang baru memakai pakaian ihramnya setelah mendarat di bandara KAA Jeddah. Untuk jamaah gelombang pertama, atau ONH Plus yang ke Madinah dulu, pakaian ihram cukup disimpan di koper besar, karena belum akan dipakai di perjalanan.

Jamaah yang kurang sehat, atau menderita sakit tertentu dianjurkan untuk melapor pada dokter rombongan. Bagi jamaah yang dalam keadaan flu atau pilek sebaiknya banyak mengunyah permen saat mengudara atau pun mendarat. Keluhan yang sering dialami jamaah yang sedang flu adalah rasa sakit yang sangat di kepala dan telinga. Pendengaran pun jadi terganggu. Sebelum berangkat jamaah juga perlu mempelajari tata cara tayamum. Jumlah toilet di pesawat terbatas, sementara pesawat penuh dengan jamaah. Persediaan air pun terbatas, tak mungkin jika semua ingin berwudhu dengan air. Jika menggunakan toilet pintu dibuka dari luar dengan cara mendorong. Sedangkan dari dalam dibuka dengan cara menarik.

Mengunci pintu dilakukan dengan cara menggeser kunci ke arah kiri. Untuk menggunakan air dingin tekan keran air bertanda warna biru. Sedangkan keran warna merah untuk air panas. Untuk menyiram kotoran di lobang kloset lakukan dengan menekan tombol bertanda flush. Untuk membuang air dari bejana penampungan air kotor tekan tombol di antara dua keran. Kertas tissue yang tersedia untuk membersikan sisa kotoran di anggota badan. Buang tissue di tempat yang telah disediakan. Waktu yang panjang di pesawat bisa digunakan untuk beristirahat, memantapkan tata cara ibadah haji atau memperbanyak zikir. Jika pegal jamaah bisa melakukan senam kecil dengan jalan melepas sandal lalu memutar-mutar kaki ke kiri, kanan, atas, dan bawah. Gerakan yang sama juga bisa dilakukan terhadap tangan dan kepala.

Terbang sekian jauh dan lama tentu menimbulkan kesulitan, terutama bagi yang belum pernah naik pesawat. Sebaiknya jamaah tak perlu sungkan-sungkan untuk meminta tolong atau bertanya kepada awak kabin jika menemui kesulitan. Sejumlah penerbangan terutama Garuda menyediakan pramugari yang bisa berbahasa daerah sesuai dengan asal jamaah. Dengan begitu jamaah yang tak bisa berbahasa Indonesia tetap bisa berkomunikasi.


"SEMOGA BERMANFAAT"

0 komentar:

Poskan Komentar